Senin, 01 Oktober 2012


Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Antonius Benny Susetyo, mengatakan fragmen mengegerkan yang dipresentasikan sejarahwan Harvard, Karen King, beberapa hari lalu adalah sebuah histografi yang sudah lama dibahas para ahli sejarah kuno dalam Gereja.
Sebagaimana ramai diberitakan sejumlah media, Selasa lalu, 18 September 2012, Profesor Karen King mempublikasikan hasil penelitiannya atas sebuah fragmen kecil--sebesar kartu nama--yang diduga merupakan bagian dari papirus kuno. Fragmen itu diperkirakan ditulis pada masa Koptik Mesir Kuno pada abad 4 sesudah Masehi.
Pada fragmen yang ditulis dalam bahasa Koptik Kuno itu ada kata-kata, "Yesus berkata kepada mereka,  'IstriKu'." Lalu pada bagian berikutnya ada kalimat, "Dia bisa menjadi murid-Ku."
Temuan ini menghangatkan kembali diskusi yang nyaris sudah usang dalam Gereja tentang apakah Yesus pernah menikah atau tidak. King menegaskan bahwa dia mulai meneliti fragmen kecil itu semenjak tahun 2011 bersama sekelompok sarjana.
Romo Benny menyatakan fragmen kecil itu sudah ratusan tahun lalu dibahas  oleh para ahli Gereja, ahli Alkitab, dan ahli sejarah dalam Gereja. Fragmen seperti yang ditemukan itu, yang disebut mirip dengan Injil Thomas, sudah lama digolongkan sebagai mitos belaka, sebab tidak ada orisinalitasnya, dan dasar historisnya juga sangat lemah.  
Lantaran dianggap hanya mitos, para ahli sejarah, ahli alkitab Gereja berabad-abad tidak pernah menganggap fragmen seperti itu sebagai sesuatu yang menguncang iman Kristiani. Itu sebabnya, ketika Karen King Selasa 18 September itu mempublikasikan hasil penelitiannya, Gereja sama sekali tidak membicarakannya. Bertanya saja, bahkan tidak.
"Karena ini sudah lama dan sudah diteliti beratus-ratus tahun. Dan juga karena iman seseorang tidak ditentukan oleh temuan seperti itu," kata Romo Benny.
Siapa pemilik asli fragmen itu belum diketahui. Dalam publikasinya, King menyebutkan bahwa fragmen itu milik seseorang yang tidak mau disebut namanya. Dia menghubungi King guna membantu menerjemahkan dan menganalisanya.
Menurut New York Times, King dan timnya berkesimpulan bahwa fragmen itu asli adanya dan bukan palsu. Tintanya memudar, serat papirus, dan tulisan tangan dalam bahasa Koptik. Bahasa Koptik yang dipakai dalam fragmen itu adalah bahasa kelompok Kristen permulaan di Mesir.
Bukan bukti Yesus menikah
Karen King sendiri menegaskan bahwa temuan itu bukanlah bukti bahwa Yesus memang pernah menikah. Apalagi, lanjutnya, fragmen itu ditulis berabad-abad sesudah Yesus wafat. Dan semua literatur yang muncul berabad-abad sebelumnya, termasuk pada masa-masa awal Gereja, tidak ada yang menulis soal pernikahan itu.
Kepada Times, King menyebutkan bahwa potongan fragmen itu hanya menunjukkan bahwa pada abad ke-4 sesudah Masehi itu, ada diskusi yang hangat di kalangan Kristen tentang apakah Yesus selibat atau menikah. Dengan begitu, mereka bisa menentukan kira-kira jalan mana yang mereka bisa tempuh."Fragmen tersebut menunjukkan ada pemeluk agama Kristen di masa-masa awal yang punya anggapan Yesus menikah," katanya.
Karen King bukan orang pertama yang memberi kesimpulan seperti itu. Sebelumnya, saat pemiliknya mendapatkan papirus itu pada tahun 1997 dari seorang Jerman, dia mendapatkan secarik kertas berisi catatan. Tulisan tangan dalam memo itu berisi bahwa seorang profesor ahli Mesir Kuno di Berlin mengatakan, fragmen tersebut adalah "contoh satu-satunya" dari teks di mana Yesus menyebut kata "istri".
King menyebutkan bahwa baris tertentu dari teks ini mirip dengan Injil Thomas dan Mary, keduanya diyakini ditulis di akhir abad ke-2, dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Koptik. Sebagaimana diketahui, hampir semua Gereja tidak mengakui Injil Thomas dan Mary itu. Penelusuran berada-abad para ahli manuskrip Gereja menemukan bahwa Injil Thomas itu ditulis jauh sesudah Injil Perjanjian Baru ditulis. Para ahli Gereja menilai tulisan Thomas itu sesat. Penelusuran sejumlah ahli kitab kuno menemukan bahwa tulisan dan fragmen adalah bikinan pengikut Manicheus yang muncul sekitar abad 3-4 sesudah Mahesi di Persia, yang menganggap pewahyuannya lebih lengkap dari agama-agama besar.

0 komentar:

Posting Komentar

Broken Link ? or Any Request ? left your comment